Breaking News

Kelemahan MVC yang harus kamu ketahui

MVC menjadi standar defacto untuk aplikasi monolitik, tapi tahukah kamu kalau MVC memiliki kelemahan di artikel ini kita akan membahasnya

1. Kompleksitas Awal dan Kurva Belajar

Pola MVC memperkenalkan beberapa lapisan (Model, View, Controller) yang harus dipahami dan diorganisasi dengan benar; untuk proyek kecil atau pengembang pemula, struktur ini terasa berlebihan dan menambah waktu pembelajaran.

2. Boilerplate dan Overhead Kode

Implementasi MVC sering membutuhkan banyak file dan kode pendukung (routing, controller, view templates, binding), sehingga proyek bisa cepat bertambah “berat” secara struktur meskipun fungsionalitasnya sederhana.

3. Keterikatan Frontend dan Backend pada Aplikasi Tradisional

Pada aplikasi ASP.NET MVC klasik, rendering sisi server dan logika tampilan terikat erat dengan backend, yang membatasi fleksibilitas untuk memisahkan frontend modern (SPA) atau melayani banyak klien (mobile, IoT) tanpa refaktor besar.

4. Skalabilitas untuk Aplikasi Sangat Besar

Untuk aplikasi berskala besar dan sangat terdistribusi, arsitektur MVC monolitik bisa menyulitkan skala horizontal dan pengembangan independen antar layanan; arsitektur berbasis API/microservices sering lebih cocok.

5. Risiko Controller Menjadi “God Object”

Tanpa disiplin desain, controller mudah menumpuk logika bisnis dan akses data, sehingga melanggar prinsip pemisahan tanggung jawab dan menyulitkan pemeliharaan serta pengujian.

6. Kinerja pada Rendering Sisi Server

Karena banyak rendering dilakukan di server, beban server bisa meningkat untuk aplikasi dengan lalu lintas tinggi atau interaksi UI yang kompleks; solusi SPA atau rendering terdistribusi kadang lebih efisien.

Dampak Praktis dan Cara Mitigasi

  • Dampak: Proyek kecil jadi lambat dikembangkan; tim besar bisa terhambat bila arsitektur tidak konsisten; sulit melayani banyak platform tanpa refactor.
  • Mitigasi: Terapkan best practices (thin controllers, service layer, repository pattern), gunakan partial views dan komponen ulang, atau gabungkan dengan API-first / SPA untuk kebutuhan multi-klien.

Kapan Sebaiknya Tidak Menggunakan MVC

  • Proyek sangat kecil dan cepat (prototipe sederhana) di mana overhead struktur menghambat produktivitas.
  • Aplikasi yang harus melayani banyak jenis klien (web, mobile, device) tanpa ingin membangun ulang tampilan.
  • Sistem yang menuntut skalabilitas independen per layanan; pertimbangkan arsitektur API/microservices.

Kesimpulan

MVC tetap berguna untuk struktur, pemisahan tanggung jawab, dan kemudahan pengujian, tetapi memiliki kelemahan seperti overhead struktur, keterikatan frontend-backend, dan tantangan skalabilitas pada aplikasi besar. Pilih MVC bila manfaat arsitekturalnya sepadan dengan kebutuhan proyek; jika tidak, pertimbangkan kombinasi API-first atau arsitektur yang lebih terdistribusi.




Tidak ada komentar